Rabu, 01 Desember 2010

Membuat Lilin Cantk


Ini cara membuat lilin sederhana, dengan media alas
gelas kecil (bukan sebagai cetakan ^_^)
Bahan-bahan:
- Paraffin
- Pewarna
- parfum (bisa dibeli di toko kimia)
- Benang kasur
Alat:
- botol bekas selai, mayones, atau lainnya (cari yang berlubang lebar
dan kaca tebal, jangan lupa cuci bersih dan keringkan dahulu)
- panci kecil
- Gelas kecil (transparan jika lilin ingin berwarna-warni)
- Tusuk sate (jika terlalu panjang dapat di potong, tapi harus lebih
panjang daripada diameter mulut gelas)
Persiapan awal:
1. Ikat benang kasur di tengah tusuk sate
2. Simpan tusuk sate diatas gelas
3. Atur agar benang jatuh ke dasar dan tetap berada ditengah gelas
Pembuatan Lilin:
1. Masukan potongan parafin ke dalam botol bekas
2. Isi panci dengan air 1/3 tinggi panci dan letakan botol berisi
parafin di dalamnya
3. Lalu panaskan dengan api kecil
3. Aduk perlahan hingga mencair
4. Tambahkan warna, sedikit demi sedikit hingga mendapatkan warna
yang dikehendaki
5. Angkat panci dari api, lalu tambahkan parfum/aroma ke dalam
paraffin
6. Tuang paraffin cair ke dalam gelas
Tips:
- agar sumbu lebih tegak, bisa dicelupkan terlebih dahulu ke
paraffin cair
- gunakan sendok makan saat menuangkan paraffin cair jika mulut
gelas kecil
- Jangan keluarkan botol dari panci berisi air agar paraffin tetap cair
- jika ingin membuat warna berlapis:
Tuangkan 1-2 sendok makan warna A, dinginkan hingga keras
Lalu tambah 1-2 sendok warna B,dinginkan kembali hingga keras
Ulang ke warna A atau ke warna C,dst
- Jika warna lilin ingin lebih bergradasi (bercampur):
Sama dengan proses lilin lapis,hanya saat menuangkan lilin
berwarna B tidak usah menunggu lilin berwarna A mengeras
- Jika lilin ingin lebih menarik:
beri tambahan lilin malam berwarna-warni yang biasa
dimainkan anak-anak, dan tempelkan pada permukaan dalam
gelas (bentuk agar berupa bunga, daun atau lainnya jika dilihat
dari luar gelas). Lalu tuangkan paraffin cair (jangan terlalu panas,
agar lilin malam tidak ikut mencair)
- Ingat walau lilin berwarna-warni, parfum harus sama
- Sering-sering latihan dan berkreasi agar menghasilkan lilin yang
lebih cantik

Jumat, 04 Juni 2010

Dear my class XI.IPA
Laporan Tugas Akhir : membuat mayonaise ditulis dicomment di bawah ya... Thx

Rabu, 26 Mei 2010

Membuat Sabun Mandi


Dear anak-anak KIR SMA IC, kali ini saya sedang berbaik hati untuk memberi resep sabun, mudah2an kalian tidak penasaran lagi ya....
Untuk pembuatan sabun natural dengan memakai resep sederhana :

142 gr minyak kelapa
142 gr minyak sawit
452 gr minyak zaitun
102 gr NaOH
240 gr air
20 gr pewangi

Teknik pembuatannya :

1. Campur NaOH dengan air, caranya adalah memasukkan NaOH ke dalam air, bukan sebaliknya. Teknik ini tolong diperhatikan, teknik tsb sudah pernah saya tulis di sini.
2. Diamkan larutan alkali menjadi hangat dengan suhu sekitar 45 derajat celcius (dari panas awal sekitar 90 derajat celcius).
3. Ketika larutan alkali mencapai suhu 45 derajat celcius, panaskan minyak sebentar dan jaga agar suhu minyak dan larutan NaOH sama yaitu 45 derajat celcius. Panci yang digunakan harus stainles steel, bukan alumunium atau seng, karena alumunium mudah kerosif jika terkena larutan alkali.
4. Masukkan larutan alkali ke dalam minyak, aduk sampai rata dan berubah mengental. Jika mengaduk secara manual bisa memakan waktu, biasanya saya memakai stik blender, sehingga dalam waktu kurang dari 30 detik sabun sudah mulai mengental.
5. Pada saat sabun sudah mulai mengental, saatnya untuk memberi pewangi, pewarna atau ekstrak tanaman / herbal.
6. Setelah tercampur rata, tuang adonan sabun ke dalam cetakan yang telah dialasi plastik atau kertas lilin. Untuk cetakan sabun, silakan berkreasi sendiri dengan memanfaatkan barang yang ada, misalnya kotak bekas bungkus sepatu, laci meja kecil atau bekas bungkus Pringels (bener nggak sih nulisnya.... keripik kentang itu lho...yang penting dialasi plastik atau kertas lilin agar sabun tidak lengket di cetakan)
7. Tutup bagian atas dengan plastik, tutup permukaannya dengan kain yang tebal.
8. Diamkan selama 24 jam agar proses saponifikasi /proses menjadi sabun benar2 komplet.
9. Keluarkan sabun dari cetakan dan potong2 sesuai selera.
10. Keringkan sabun di tempat yang cukup ventilasi selama 4 - 6 minggu, setelah itu sabun siap dipakai.

Begitulah ribetnya membuat sabun, tapi jangan berkecil hati. Dimana ada kemauan pasti ada jalan. OK!!! Good Luck

Jumat, 07 Mei 2010

Tugas XI.IPA

KELARUTAN DAN HASIL KALI KELARUTAN

Baca link "Kelarutan dan Hasil Kali Kelarutan" di Materi kimia.
Kemudian kerjakan Latihan pada nomor sesuai undian masing2 kelompok.
Jawaban dari soal latihan dapat di poskan pada komentar di bawah.
Kelompok yang menyelesaikan tugasnya duluan akan diprioritaskan mendapatkan nilai terbaik. Jangan lupa beri nama anggota kelompok ya...
Good Luck!

Mengaktifkan Siswa dalam Belajar (active Learning)

Pembelajaran aktif (active learning) tampaknya telah menjadi pilihan utama dalam praktik pendidikan saat ini. Di Indonesia, gerakan pembelajaran aktif ini terasa semakin mengemuka bersamaan dengan upaya mereformasi pendidikan nasional, sekitar akhir tahun 90-an. Gerakan perubahan ini terus berlanjut hingga sekarang dan para guru terus menerus didorong untuk dapat menerapkan konsep pembelajaran aktif dalam setiap praktik pembelajaran siswanya.

Beberapa kalangan berpendapat bahwa inti dari reformasi pendidikan ini justru terletak pada perubahan paradigma pembelajaran dari model pembelajaran pasif ke model pembelajaran aktif.

Merujuk pada pemikiran L. Dee Fink dalam sebuah tulisannya yang berjudul Active Learning, di bawah ini akan diuraikan konsep dasar pembelajaran aktif. Menurut L. Dee Fink, pembelajaran aktif terdiri dari dua komponen utama yaitu: unsur pengalaman (experience), meliputi kegiatan melakukan (doing) dan pengamatan (obeserving) dan dialogue, meliputi dialog dengan diri sendiri (self) dan dialog dengan orang lain (others)


Dialog dengan Diri (Dialogue with Self) :

Dialog dengan diri adalah bentuk belajar dimana para siswa melakukan berfikir reflektif mengenai suatu topik. Mereka bertanya pada diri sendiri, apa yang sedang atau harus dipikirkan, apa yang mereka rasakan dari topik yang dipelajarinya. Mereka “memikirkan tentang pemikirannya sendiri, (thinking about my own thinking)”, dalam cakupan pertanyaan yang lebih luas, dan tidak hanya berkaitan dengan aspek kognitif semata.

Dialog dengan orang lain (Dialogue with Others) :

Dalam pembelajaran tradisional, ketika siswa membaca buku teks atau mendengarkan ceramah, pada dasarnya mereka sedang berdialog dengan “mendengarkan” dari orang lain (guru, penulis buku), tetapi sifatnya sangat terbatas karena didalamnya tidak terjadi balikan dan pertukaran pemikiran. L. Dee Fink menyebutnya sebagai “partial dialogue“

Bentuk lain dari dialog yang lebih dinamis adalah dengan membagi siswa ke dalam kelompok-kelompok kecil (small group), dimana para siswa dapat berdiskusi mengenai topik-topik pelajaran secara intensif. Lebih dari itu., untuk melibatkan siswa ke dalam situasi dialog tertentu, guru dapat mengembangkan cara-cara kreatif, misalnya mengajak siswa untuk berdialog dengan praktisi, ahli, dan sebagainya. baik yang berlangsung di dalam kelas maupun di luar kelas, melalui interaksi langsung atau secara tertulis.

Mengamati (Observing) :

Kegiatan ini terjadi dimana para siswa dapat melihat dan mendengarkan ketika orang lain “melakukan sesuatu (doing something)” , terkait dengan apa yang sedang dipelajarinya. Misalnya, mengamati guru sedang melakukan sesuatu. Misalnya, guru olah raga yang sedang memperagakan cara menendang bola yang baik, guru komputer yang sedang membelajarkan cara-cara browsing di internet, dan sebagainya,

Selain mengamati peragaan yang ditampilkan gurunya, siswa juga dapat diajak untuk mendengarkan dan melihat dari orang lain, misalnya menyaksikan penampilan bagaimana cara kerja seorang dokter ketika sedang mengobati pasiennya, menyaksikan seorang musisi sedang memperagakan kemahirannya dalam memainkan alat musik gitar, dan sebagainya. Begitu juga siswa dapat diajak untuk mengamati fenomena-fenomena lain, terkait dengan topik yang sedang dipelajari, misalnya fenomena alam, sosial, atau budaya.

Tindakan mengamati dapat dilakukan secara “langsung” atau “tidak langsung.” Pengamatan langsung artinya siswa diajak mengamati kegiatan atau situasi nyata secara langsung. Misalnya, untuk mempelajari seluk beluk kehidupan di bank, siswa dapat diajak langsung mengunjungi bank-bank yang ada di daerahnya. Sedangkan pengamatan tidak langsung, siswa diajak melakukan pengamatan terhadap situasi atau kegiatan melalui simulasi dari situasi nyata, studi kasus atau diajak menonton film (video). Misalnya unruk mempelajari seluk beluk kehidupan di bank, siswa dapat diajak menyaksikan video tentang situasi kehidupan di sebuah bank.

Melakukan (Doing):

Kegiatan ini menunjuk pada proses pembelajaran di mana siswa benar-benar melakukan sesuatu secara nyata. Misalnya, membuat desain bendungan (bidang teknik), mendesain atau melakukan eksperimen (bidang ilmu-ilmu alam dan sosial), menyelidiki sumber-sumber sejarah lokal (sejarah), membuat presentasi lisan, membuat cerpen dan puisi (bidang bahasa) dan sebagainya. Sama halnya dengan mengamati (observing), kegiatan “melakukan” dapat dilaksanakan secara langsung atau tidak langsung

Terkait dengan upaya mengimplementasikan konsep di atas, L. Dee Fink menyampaikan 3 (tiga) saran, sebagai berikut:

1. Memperluas jenis pengalaman belajar.

Buatlah kelompok-kelompok kecil siswa dan meminta mereka membuat keputusan atau menjawab sebuah pertanyaan terfokus secara berkala.

Temukan cara agar siswa dapat terlibat dalam berbagai dialog otentik dengan orang lain, di luar teman-teman sekelasnya (di website, melalui email, atau dalam kehidupan nyata).

Dorong siswa untuk membuat jurnal pembelajaran atau portofolio belajar. Guru dapat meminta para siswa untuk menuliskan tentang apa yang mereka pelajari, bagaimana mereka belajar, apa peran pengetahuan yang dipelajarinya untuk kehidupan mereka sendiri, bagaimana hal ini membuat mereka merasa, dan sebagainya.

Temukan cara untuk membantu siswa agar dapat mengamati sesuatu yang ingin dipelajarinya, baik secara langsung maupun tidak langsung.

Temukan cara yang memungkinkan siswa untuk benar-benar melakukan sesuatu yang dipelajarinya, baik secara langsung maupun tidak langsung.

2. Mengambil manfaat dari “Power of Interaction.”

Dari keempat bentuk belajar di atas, masing-masing memiliki nilai tersendiri, tetapi apabila keempat bentuk belajar tersebut (Dialogue with Self, Dialogue with Others, Observing, dan Doing) dikombinasikan secara tepat, maka akan dapat memberikan efek belajar yang lebih kaya kepada para siswa.

Para pendukung Problem-Based Learning menyarankan kepada para guru untuk mengawalinya dengan kegiatan “Doing”, dimana guru terlebih dahulu mengajukan berbagai masalah nyata (real problem) untuk diselesaikan oleh siswanya. Kemudian, siswa diminta untuk berkomunikasi dan berkonsultasi dengan rekan-rekan sekelompoknya (Dialogue with Others) untuk menemukan cara-cara terbaik guna memecahkan masalah nyata yang telah diajukan. Setelah para siswa saling berkomunikasi dan berkonsultasi, selanjutnya para siswa akan melakukan berbagai macam bentuk belajar sesuai pilihannya, termasuk didalamnya melakukan Dialogue with Self dan Observing.

3. Membuat dialektika antara pengalaman dan dialog.

Melalui pengalaman (baik melalui doing dan observing) siswa memperoleh perspektif baru tentang apa yang benar (keyakinan) dan apa yang baik (nilai). Sementara melalui dialog dapat membantu siswa untuk mengkonstruksi berbagai makna dan pemahamannya.

Untuk menyempurnakan prinsip interaksi sebagaimana dijelaskan di atas yaitu dengan melakukan dialektika antara kedua komponen tersebut. Dalam hal ini, secara kreatif guru dapat mengkonfigurasi dialektika antara pengalaman baru yang kaya dan mendalam dengan dialog yang bermakna, sehingga pada akhirnya siswa benar-benar dapat memperoleh pengalaman belajar yang signifikan dan bermakna

Sumber: Terjemahan bebas dan adaptasi dari: L. Dee Fink. 1999 - Active Learning

Chemistry experiment 11 - Jumping sodium

Sabtu, 01 Mei 2010

Water can burn

Penulisan silabus yang benar

Silabus merupakan penjabaran standar kompetensi, Kompetensi dasar dan indikator ke dalam materi pokok/pembelajaran, kegiatan pembelajaran dan pencapaian kompetensi untuk penilaian.

Cara menyusunnya :
1. KD (Kompetensi Dasar) dituliskan dengan memakai Kata Kerja + Kata Benda, sehingga rumusnya adalah KD=KK + KB
2. Indikator dituliskan dengan memakai Kata Kerja Operasional + Materi Essensial.
3. Materi Pokok adalah Kata Benda yang ada pada masing-masing Kompetensi Dasar (KD).
4. Kegiatan Pembelajaran isinya harus merupakan kegiatan siswa dan life skill yang terkait dengan kegiatan pembelajarannya, dan tidak perlu menggunakan kata-kata siswa dapat, tapi langsung pada kegiatan siswa.
5. Penilaian diisikan dengan jelas jika tes tertulis terdiri dari apa sajakah tertulisnya sesuaikan dengan uraian pada kolom indikator, apakah bisa ESSAY, PILIHAN GANDA, PENYUSUNAN LAPORAN atau lainnya yang sifatnya tertulis. Jika Tes-nya berbentuk Lisan demikian pula tes lisan nya apa saja.
6. Alokasi Waktu, biasanya menggunakan rumus perbandingan 1 2 4 yaitu pada TM (Tatap Muka) dikalikan 1 pada PS (Praktek di Sekolah) dikalikan 2 dan pada PI (Praktek di Industri) dikalikan 4
7. Sumber Belajar wajib dituliskan lengkap Judul Buku, Modul apa, yang ke-berapa serta Pengarang dan Penerbitnya.

Demikianlah tentang CARA MENYUSUN SILABUS YANG BENAR
Sumber : makalah LPMP DKI Jakarta

Belajar Kimia mudah dan asyiik

Ketika mendengar kata kimia banyak orang yg ngeri dan takut. Banyak yang mengaitkan kimia dengan bom atom dan bahan-bahan kimia yang beracun dan berbahaya. Bagi pelajarpun kalau mendengar kata pelajaran kimia juga jadi ilfill......pusiiing katanya. Bingung dan ribetlah dengan banyaknya lambang unsur, reaksi-reaksi kimia de-el-el. Padahal sebenarnya di kehidupan kita sehari-hari nggak bisa terlepas dari yang namanya kimia. Kimia bisa kita pelajari dengan cara yang menyenangkan bahkan ajaib. Ga percaya?? So,buktiin aja disini. Temukan sensasi belajar kimia dengan cara yang berbeda, up to date dan tetep asyiiik...